Mengapa Manusia Enggan Berubah

Empat Belas Alasan Mengapa manusia enggan berubah yang berhasil diidentifikasi oleh John C. Maxwell

1. Perubahan itu bukan datang dari orang tersebut
Kebanyakan sikap kita terhadap perubahan lebih ditentukan oleh “Apakah saya yang memeloporinya” atau “Orang lain yang memeloporinya”.
John C. Maxwell

2. Gangguan Terhadap Rutinitas
Pertama-tama kita membentuk habit. Tapi kemudian habit akan membentuk kita
John C. Maxwell
Untuk berubah kita harus punya kemampuan belajar dua hal sekaligus,
satu, belajar membuang kebiasaan kebiasaan lama (To Unlearn ) dan dua, mengadopsi atau belajar (to learn) tentang hal-hal yang baru

3. Perubahan Menimbulkan Ketakutan-ketakutan terhadap Sesuatu yang Baru
Kebanyakan kita lebih familier dengan masalah-masalah lama ketimbang solusi-solusi baru. Ketika segala sesuatu berubah, memasuki dunia baru dapat diibaratkan bagai masuk hutan yang gelap tanpa petunjuk jalan, peta dan kompas
Bahkan disana tak ada pernghuni sama sekali. Untuk menghadapi perubahan, adakalanya Anda wajib meruntuhkan seluruh bnagunan lama yang sudah ada disana. Bukan sekedar menempelkan bangunan-bangunan baru disekitar gedung lama.

4. Tujuan Perubahan Tidak Jelas
Ketika suatu keputusan dibuat, semakin jauh seorang karyawan mendengarnya dari pengambil keputusan maka semakin besar pula keenganan untuk menerimanya
John C. Maxwell

Perubahan selalu melibatkan visi, yang artinya “ada sesuatu yang dapat dilihat seseorang”, sementara yang lainnya belum tentu mampu melihatnya. Tugas Anda adalah membuat agar apa yang Anda lihat itu dapat juga dilihat dengan jelas oleh orang-orang Anda.
“Ngapain sih yang sudah bagus-bagus dan enak kok diubah lagi?” Orang-orang yang bergumam demikian biasanya belum bisa melihat apa yang Anda lihat. Mungkin mereka melihatnya, tetapi masih samar-samar, dan cara melihat atau perspektifnya tidak sama.
Untuk membuat mereka jelas maka idealnya semua orang harus menerima informasi dari Tangan Pertama. Dengan begitu, mereka lebih familiar dan lebih nyaman. Selalu saja terdapat perbedaan “rasa” melihat dari tangan pertama dengan melihat dari tangan kedua atau ketiga. Maka usahakanlah memberikan “First hand Information” kepada mereka yang Anda angap penting dalam perubahan ini
5. Perubahan Menimbulkan Rasa Takut Kegagalan
Banyak orang yang memilih untuk sekedar bermain agar “jangan sampai kehilangan” (Play to not-lose) aripada “bermain untuk menang” (Play to win). Kedua sikap ini tentu berbeda. Orang-orang yang masuk dalam kategori pertama cenderung menghindari resiko. Mereka ibaratnya menjaga anaknya dengan dengan penuh hati-hati saat sedang belajar naik sepeda. Mereka tak membolekan anaknya jatuh dari sepeda meski jatuh itu akan membuatnya lebih berhati-hati. Kalau sekolah, prinsipnya adalah “yang penting lulus saja” atau “yang penting tidak drop out”. Orang-orang ini berbeda dengan kelompok kedua yang cenderung lebh berani dalam menghadapi kegagalan. Bagi mereka “kegagalan adalah Ibu Penemuan”. Dengan kegagalan mereka menjadi lebih berani menghadapi hidup.

6. Pengorbanan yang Diberikan Terlalu Besar
“Pengorbanan” sering kali bukan merupakan cerminan dari sesuatu yang terjadi sesungguhnya, melainkan cerminan dari apa yang dipikirkan seseorang. Dengan kata lain, persepsi terhadap perubahanlah yang membentuk pandangan-pandangan seseorang. Manusia pada dasarnya engan menerima suatu perubahan manakala ia mempunyai persepsi bahwa ia mempunyai persepsi bahwa pengorbanan yang harus diberikan lebih besar daripada manfaat yang akan diterimanya.
Manusia selalu menimbang-nimbnag hubungan antara manfaat/mudarat, keuntungan/kerugian personal yang akan dialami, dan tentu saja manfaat/kerugian organisasi/bangsany a. Untuk mendorong perubahan dibutuhkan keyakinan bahwa manfaat yang akan diterima lebih besar daripada pengorbanan- pengorbanan yang harus diberikan.

7. Sudah Puas dengan Kondisi Sekarang
Suatu ketika manusia akan mengalami atau memasuki zona kenyamanan (Comfort Zone) dan memeluk erat-erat selimut kenyamanan (security blanket)-nya. Hampir setiap kanak-kanak punya selimut tersebut.
Tak ada cara lain untuk mengubah manusia kecuali membuatnya sadar dengan ia sendiri yang mengubahnya.
Dalam pekerjaan, bisnis, atau pemerintahan, sebetulnya sikap manusia sama saja. Kebanyakan kita lebih memilih untuk mati daripada berubah. Kita biarkan semua berjalan seperti sebelumnya, walaupun kita sudah menuju pada jurang kehancuran. Orang-orang dewasa suatu ketika juga akan memasuki zona kenyamanan itu dan memeluk erat-erat selimut rasa amannya. Mereka bahkan enggan melepaskannya. Selama manusia sudah merasa puas dan nyaman, perubahan akan sulit diwujudkan.

8. Pikiran-pikiran Negatif
Mereka yang berpikiran negatif akan menghadapi kekecewaan di masa depannya..
John C. Maxwell

Perubahan tentu saja akan sulit dilakukan selama orang-orang punya pikiran negatif. Orang-orang yang berpikiran negatif akan selalu mencari argumentasi bahwa perubahan yang dilakukan salah dan menyimpang. Orang-orang yang berpikiran negatif akan selalu menciptakan halangan-halangan dn tentu saja dapat Anda temui dimanapun Anda berada. Tapi hukum alam mengatakan, mereka yang tidak mau berubah akan menemui kesulitannya sendiri.

9. Para Pengikut Tak Punya Respek Pada Pemimpinnya
Pemimpin bisa gagal melakukan perubahan kalau pengikut-pengikutny a kurang respek.
Tanpa Integritas, seorang pemimpin tak akan dituruti, kata-katanya tak akan bertuah.

10. Kecemasan Seorang Atasan
Kecemasan bukan hanya ada dibawah, melainkan juga di atas. Banyak kegagalan organisasi yang juga disebabkan oleh persoalan di lini atas, yaitu atasan-atasan yang tidak kompak, saling menyalahkan dan cemas terhadap perubahan yang telah mereka canangkan sendiri. Mereka ingin berubah , tetapi tidak mau menerima akibat-akibat negatifnya, seperti kritik pedas, demo karyawan, surat kaleng, salah arah, kehilangan tunjangan-tunjangan , tau kehilangan jabatan. Merkea kadang menganggap kritik sebagai serangan terhadap hidup pribadinya, bukan sebagai cambuk untuk perbaikan.

11. Perubahan Bisa Berarti Kehilangan Sesuatu
Dalam setiap perubahan, orang selalu menimbang-nimbang apa yang bakal terjadi pada hidup pribadinya. Setidaknya ada tiga kelompok yang berbeda dalam menerima akibatnya.
(1). Mereka yang dirugikan
(2). Mereka yang tidak banyak terpengaruh dan
(3). Mereka yang bakal diuntungkan

Mereka yang merasa akan menjadi korban atau harus lebih bnayak berkorban jelasakan sangat merasa diperlakukan tidak adil, dan tentu saja menghambat/enggan terhadap perubahan. Maka, sekecil apapun, cobalah menghindari perlakuan-perlakuan kurang adil dalam perubahan. Setiap pihak harus diupayakan menerima efek perubahan dengan porsi yang sama.

12. Perubahan Menuntut Tambahan Komitmen
Setiap melakukan perubahan, manusia selalu akan memikirkan tambahan beban kerja dan waktu seperti apa yang harus diberikan untuk melengkapi perubahan tersebut? Dalam banyak hal, perubahan menuntut komitmen waktu. Mustahil Anda mengubah sesuatu tetapi tidak berani mengawalnya. Anda harus berada dalam denyut nadi perubahan itu bersama-sama.

13. Berpikir Sempit
Orang-orang berpikiran sempit tak bisa melihat kebenaran. Mereka hanya mempercayai jalan pikirannya sendiri, yaitu jalan pikiran yang sudah membentukknya selama bertahun-tahun. Sebagian besar dari mereka jarang bergaul ke luar atau kalau bergaul ke luar, mereka selalu terasing, mengisolasi diri dari faktor-faktor luar, membentengi diri dengan belief-nya sendiri. Secara akademik mereka bisa saja pintar. Bisa saja mereka sekolah di luar negeri. Tetapi selama di luar negeri bisa jadi mereke hanya bergaul di kalagan terbatas, yaitu kalangan yang “sama” seperti mereka sehingga sulit menerima yang berbeda.
Orang-orang yang berpikiran sempit akan selalu menciptakan halangan-halangan untuk perubahan dngan alasan untuk kebaikan menurut versi mereka sendiri. Tapi terhadap mereka, Anda tidakboleh menghindar, melainkan harus menghadapi secara ksatria. Ubah sebisanya, walaupun sangat sulit.Dengan menghadapi orang-orang ini setidaknya anda telah menunjukkan keberanian nda terhadap mereka yang pasif. Anda mungkin harus menjauhi orang-orang ini dan tidak perlu menganggap kehadirannya dengan serius, tetapi ia bisa saja menularkan pikiran-pikiran sempitnya pada orang-orang berpengaruh.
Ada dua tipe orang berwawasan sempit. Mereka berwawasan sempit namun jujur dan tidak jahat, dan mereka yang sempit namun tidak, berprasangka buruk, berpikiran negatif dan tidak menyenangkan.
Terhadap pihak pertama, Anda tidak perlu mencemaskannya, cukup diajak saling menghormati pikiran masing-masing. Tugas anda adalah melepaskan tali temali yang membelenggu tangan, kaki dan pikiran-pikiran mereka.
Terhadap yang kedua, Anda perlu mewaspadainya dan membentengi orang-orang baik dari serangan peluru gelapnya. Ia bisa saja mengatakan telah mendengar banyak hal negatif tentang anda (dan perubahan yang Anda lakukan) dan mersa “kupingnya panas”, padahal kuping itu panas karena mulutnya sendiri. Ia bisa mengganggu perubahan atas nama “kebenaran”. tetapi ia tidak akan memperoleh dukungan karena ketidakjujurannya.

14. Terperangkap tradisi
Kita Semuanya terpenjara, namun beberapa diantara kita berada dalam sel berjendela. Dan beberapa lainnya dalam sel tanpa jendela
Kahlil Gibran
Manusia yang terikat oleh tradisi bisa sampai sulit untuk berubah

diambil dari buku “Change” Oleh Rheinald Kasali, Ph.D,
Isinya sangat bagus dan bisa meng-inspirasi kita, bagus dibaca untuk semua kalangan

(copy paste dari Go Batak)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: